Berikut adalah bagaimana PGRI mengonstruksi dan memperkuat nilai kolektif di dunia pendidikan:
1. Semangat Solidaritas dan Kesetiakawanan
Nilai utama PGRI adalah “Satu Sakit, Semua Merasa”. Kolektivitas ini dibangun melalui:
2. Membangun Identitas Kolektif sebagai Penggerak
PGRI menyatukan berbagai latar belakang (Guru PNS, PPPK, Honorer, Swasta, hingga Dosen) ke dalam satu wadah. Identitas ini penting untuk:
-
Suara Tunggal dalam Kebijakan: Nilai kolektif ini membuat daya tawar guru menjadi kuat saat berhadapan dengan pengambil kebijakan.
3. Etika Profesi sebagai Standar Bersama
Kolektivitas tanpa aturan akan menjadi liar. PGRI memperkuat nilai ini melalui Kode Etik Guru Indonesia.
-
Integritas: Menjaga marwah guru agar tetap menjadi teladan moral di masyarakat.
-
Otonomi Profesional: Saling mendukung untuk menolak intervensi luar yang merusak independensi guru dalam memberikan penilaian atau materi ajar.
Strategi Penguatan di Era Digital (2026)
Di era sekarang, nilai kolektif tidak lagi hanya dibangun lewat pertemuan tatap muka (konferensi), tetapi juga melalui:
| Instrumen | Peran dalam Nilai Kolektif |
| Platform Komunitas Digital | Ruang berbagi best practice antar guru dari Aceh hingga Papua secara instan. |
| Gerakan Literasi Bersama | Kolektif menerbitkan buku atau jurnal penelitian untuk meningkatkan martabat intelektual. |
| Advokasi Berbasis Data | Mengumpulkan aspirasi anggota secara digital agar kebijakan yang diperjuangkan benar-benar representatif. |
Transformasi Peran: Dari Paguyuban ke Organisasi Modern
PGRI kini bertransformasi menjadi organisasi yang lebih dinamis. Nilai kolektif yang dulu bersifat tradisional (silaturahmi) kini bergeser menjadi Kolaborasi Strategis. Guru tidak lagi berkompetisi satu sama lain, melainkan berkolaborasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional secara agregat.
“Kekuatan sejati guru bukan terletak pada pintarnya ia mengajar di satu kelas, tapi pada seberapa solid ia bersama rekan sejawatnya mengubah wajah pendidikan di satu negara.”
Leave A Comment